Kisah Sahabat Rosulullah : Umar Bin Khatab
Didalam kehidupan ini, kita senantiasa mengambil i’tibar
(contoh dan teladan dari orang-orang sebelum kita). Itu sebabnya pada baginda
kita Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam, Allah Subhanallahu
Wata'ala menjelaskan cerita para nabi sebelum beliau. Dalam QS Tahaa ayat 99
Allah menjelaskan:
Artinya: Demikianlah, kami ceritakan
kepadamu wahai Muhammad, sebagian dari kisah para rasul sebelum kamu, yang
dengan itu akan memperkuat hatimu, meneguhkan keyakinanmu, dan menetapkan
pendirianmu.
Inilah manfaatnya belajar dari sejarah. Jadi jangankan kita,
baginda Nabi Muhammad pun oleh Allah Subhanallahu Wata'ala diceritakan
para nabi sebelum beliau, yang dimusuhi oleh umatnya, yang dicaci maki oleh
kaumnya, yang terusir dari kampung halamannya, bahkan sampai ada yang terbunuh
oleh umatnya. Itu seluruhnya merupakan i’tibar untuk memantapkan langkahmu,
meneguhkan keyakinanmu, dan menguatkan pendirianmu menghadapi perjuangan ini.
Ada satu peristiwa
penting yang bisa kita ambil i’tibar atau contoh dan teladannya. Yaitu dengan
diangkatnya Umar bin Khattab sebagai khalifah kedua setelah wafatnya Khalifah
Abu Bakar as Shiddiq. Tepatnya tanggal 23 Jumadil Akhir tahun 13 H silam.
satu cuplikan kecil dari kehidupan seorang sahabat utama
baginda Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam yaitu Saydina Umar ibnu
Khattab ra. Beliau adalah Umar bin Khattab bin Nuf’ain bin Abdul Uzza dari suku
Quraisy golongan Bani Adl. Perawakannya tinggi, kekar dan gagah melambangkan
sifatnya yang pemberani, tegas dan tidak pernah kenal takut pada
siapapun.
Sebelum mendapat hidayah Umar bin Khattab termasuk orang yang
berdiri dibarisan orang-orang yang memusuhi umat Islam. Ia terperangkap dalam
tradisi jahiliyah. Dimana gemar berperang dan bermabuk-mabukan juga merupakan
hal-hal yang pernah dilaksanakan dalam kehidupannya, sebelum beliau masuk ke
dalam Agama Islam. Oleh karena itu dalam kehidupan beragama, hidayah merupakan
sesuatu yang penting, bagaimanapun banyaknya dosa dan kesalahan yang telah
dilakukan oleh seseorang tidak seharusnya menyebabkan ia putus asa dari rahmat
Allah. Sebaliknya bagaimanapun banyaknya kebajikan dan kebaikan yang sudah
dikerjakannya, tidak perlu membuatnya berbesar hati, puas, bangga apalagi
menjadi lalai karenanya, sebab kita belum tau akan bagaimana ujung perjalanan
dari kehidupan kita ini.
Kisah Umar bin khattab masuk Islam merupakan peristiwa yang
menarik. Pada suatu hari dengan pedang terhunus, Umar bin Khattab menuju Darul
Arqom tempat dimana baginda Nabi biasa berkumpul dengan para sahabat. Melihat
mukanya yang beringas, matanya yang nanar, orang sudah menyangka dan mengerti,
ini tentu akan terjadi pembunuhan. Dalam perjalanan menuju Darul Arqom, Umar
bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah. Nu’aim bertanya “Ya Umar, mau kemana
engkau?” Umar bilang: “Mau membunuh itu, si murtad itu” “ si murtad yang mana?”
“yang mana lagi? Itu. Yang memecah belah kita. Yang menghina berhala-berhala
kita. Yang menjelek-jelekkan nenek moyang dan keturunan kita. Siapa lagi kalau
bukan Muhammad.” Kata Nu’aim “Umar, tidak salah engkau?” “Tidak salah lagi”
“Salah Umar” “Salah kenapa?” “Apa kamu tidak malu? Kamu mau pergi membunuh
Muhammad, sementara adikmu sendiri Fatimah, dia sudah termasuk salah seorang
pengikut Muhammad.”
Mendengar ini, muka yang memang tadinya sudah marah dan
merah, tambah jadi kelam. Bukan main mangkelnya Umar bin Khattab. Orang lain
dia musuhi, orang lain dia kejar-kejar, ini malah adiknya sendiri menjadi
pengikut dari Baginda Nabi. Tidak jadi menuju Darul Arqom, dia berangkat
kerumah adiknya Fatimah.
Adapun di rumah Fatimah sedang berkumpul, Fatimah, suaminya
Sa’id bin Zaid dan seorang sahabat Habab ibnul Arots. Mereka sedang membaca
Quran. Waktu itu Quran belum lagi dijilid seperti zaman sekarang, jadi masih
merupakan suhuf atau lembaran-lembaran saja. Diketuk pintu oleh Umar, dan
dijawab dari dalam’ “Siapa diluar?” “Umar!” mendengar suaranya saja, ini
sahabat yang namanya Habab Ibnul Arots sudah lari kebelakang pintu. Adapun
Fatimah yang sedang memegang suhuf, lembaran tulisan Al-Quran itu,
menyembunyikan suhuf itu dibelakang bajunya.
Umar masuk langsung bertanya: “Fatimah!” “Saya Umar” “Apa
benar berita yang saya dengar?” “Berita apa itu?” “Bahwa kau sudah masuk
Islam?”
Fatimah berkata “Umar? Andai kata Muhammad memang benar,
bagaimana?”
Umarpun bersikeras “Sudahlah jangan berbelit-belit, jawab
saja kau masuk Islam, benar atau tidak?”
“Iya!” jawab Fatimah. Begitu dikatakan ‘iya’ tangannya
langsung melayang, menampar muka adiknya ini, sehingga mengalir darah dari
hidungnya Fatimah. Suaminya Sa’id bin Zaid yang mencoba melindungi istrinya
dipegang lehernya dibanting, diduduki dadanya. Namun pada saat sedemikian,
suara kebenaran terpantul dari mulut Fatimah, adik dari Umar bin Khattab
ini.
Umar! Apakah engkau memukul orang yang bersaksi bahwa tiada
tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah? Apakah engkau menganiaya seseorang
yang terpanggil untuk mengikuti kebenaran? Manusia macam apa engkau Umar!
Memang Umar orangnya keras, tapi hatinya mudah menerima
kebenaran, sehingga mendengar kalimat adiknya ini tercenung dia sejenak,
melongok dan bengong. Ini kalau tidak dengan keyakinan yang mantap, tidak
mungkin Fatimah berbicara seperti ini. Umar? Mengapa engkau memukul orang yang
bersaksi bahwa tidak ada tuhan melainkan Allah dan Muhammad Rasulullah?
Mengapa engkau pukul orang yang mengikuti kebenaran menerima hidayah dari
Allah?
Di saat adiknya berkata begitu, tidak sengaja suhuf lembaran
yang tersembunyi dibelakang bajunya tersembul, umarpun bertanya “Apa yang kau
sembunyikan dibalik baju mu itu?” Fatimah berkata “Suhuf” “Apa suhuf itu?”
“Lembaran Al-quran” “Coba saya lihat?” “Tidak boleh” “Kenapa?” “Kamu kotor,
orang kotor tidak boleh memegang Al-quran” “Saya mau lihat?” “Tidak boleh.
Kalau kamu mau lihat, mandi dulu” Diturutinya permintaan adiknya itu. Lalu
diambilnya suhuf tadi, dan dia baca.
Kebetulan ayat yang dibacanya, ayat pertama dari surah Thaha
yang berlanjut hingga pada ayat empat belas pada surah yang sama. Dia baca:
“Bismillahirahmanirahim. Thaha, maa anzalna ‘alaikal qur’ana litasqo,
illa tadzkirotal limay yakhsya.
Thaha, Tidaklah Aku turunkan Al-quran ini untuk bikin sukar
manusia. Melainkan merupakan pengingat bagi orang-orang yang takut kepada
Allah.”
Lalu pada ayat ke empat belas
“innani ‘anallahula illahailla ‘ana fa’budni “Sesungguhnya Aku lah Allah. Tidak ada
tuhan melainkan Aku. Maka hendaknya hanya kepada Ku lah kamu menyembah.
wa’aqimisholata lidzikri.
Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
Innassa ’ata aatiyatun ‘akaadu ukhfiy khaa lituj zaa kullu
nafsi bima tas’aa
Sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang, yang sengaja
waktunya tidak Kami beritahukan kepada kamu semua, untuk Kami balas segala
setiap orang, tentang apa saja yang telah mereka lakukan dalam kehidupan dunia
ini”.
Setelah membaca ayat ini gemetar tangannya. Dalam hati Umar
ini tidak main-main. Belum pernah saya baca ajaran yang semacam ini. Tidak
patut orang yang mempunyai kitab suci semacam ini dimusuhi. Ini sesuatu yang
benar. Tergetar jiwanya. “Hai, Fatimah beritahu aku dimana keberadaan
Muhammad?” “Saya tidak akan memberitahu kamu” “Dimana? kata Umar lagi” “Saya
tidak akan memberi tahu kata Fatimah. Lebih baik kamu bunuh saya kalau memang
maksud mu mau mencelakakan Muhammad” “Sama sekali saya tidak akan mencelakakan
dia, Fatimah. Kasih tau saja dimana dia?” “Darul Arqom” kata Fatimah. Bergegas
umar menuju Darul Arkom.
Saat di dalam Darul Arqom nabi memang sedang kumpul dengan
para sahabat. Termasuk ada Sayyidina Hamzah yang juga terkenal sebagai jawarah
juga. Diketuklah pintu. “Siapa diluar?” “Umar”. Didalam Darul Arqom ini geger
sebagian sahabat, umar datang ini pasti sebagai bencana. Tapi baginda Nabi
menenangkan mereka, “Tenang, mudah-mudahan ada hikmahnya.” Saydina Hamzah
tampil “Bukakan dia pintu. Kalau niatnya baik kita terima, kalau niatnya tidak
baik, saya paling depan”.
Di bukakan pintu. Begitu dibukakan pintu, Umar masuk
merangkul baginda nabi kemudian dengan tersendat “Asyhadu’alla illaha illallah
wa ashhaduanaka ya muhammad rasulullah”. Saya bersaksi tidak ada tuhan selain
Allah, dan saya bersaksi engkau wahai Muhammad adalah utusan Allah. Sahabat
takbir semua. ALLAHU AKBAR. ALLAHU AKBAR. Kegembiraan meliputi suasana ketika
itu, kenapa? karena sebelumnya dikala Umar belum masuk Islam, dia merupakan ganjalan
yang paling dikhawatirkan oleh umat Islam. Setelah dia masuk Islam, jelas
merupakan suatu keuntungan yang sangat besar dan dia tertarik kepada Islam
bukan karena bujuk rayu orang, tidak karena diberikan harta, tidak karena
diiming-imingi oleh kedudukan tinggi tapi karena kebenaran, hidayah menembus
hatinya melalui wasillah ayat dalam surah Thaha yang dibacanya melalui suhuf
yang dipegang oleh adiknya tadi. Inilah yang harus kita ambil i’tibar atau
contoh dan tauladannya. Apabila kita membaca Alqur’an, mohon sempatkan membaca
artinya agar tersentuh hati kita dengan makna yang terkandung didalam Al Qur’an
tersebut.
Sejak saat itu berubah 180 derajat Umar bin Khattab ra,
tetapi tetap dengan sifatnya: keras, tegas dan tidak pernah kenal takut kepada
siapapun. Cuma pada sebelum Islam, dia kerasnya kepada Islam, setelah dia masuk
Islam putar arah kepada siapapun yang memusuhi Islam dia bersikap keras, tegas
dan tidak pernah kenal takut.
Setelah Sayyidina Umar masuk Islam, suatu hari ketika di
Darul Arqom kumpul-kumpul, waktu itu nabi belum berdakwah secara terbuka karena
pengikut masih sedikit. Saydiana Umar usul “ Ya rasul, bukankah kita ini
berdiri diatas sesuatu yang benar? Bukankah hidup kita, mati kita untuk melaksanakan
sesuatu yang benar? Betul ya Umar. Demi Allah Umar kata nabi, sesungguhnya kamu
dan kita semua berdiri diatas kebenaran. Hidup ataupun mati ”. Setelah mendapat
jawaban ini Umar masuk kepada tujuan pembicaraannya. “Kalau memang begitu ya
rasul, kalau memang kita yakin kita berdiri diatas kebenaran, kita hidup karna
kebenaran, kita matipun karena memperjuangkan kebenaran, kenapa harus
bersembunyi-sembunyi?”
“Demi Allah ya Rasul, tuan harus keluar menyampaikan Islam
ini secara terbuka dan kami akan mendampingi tuan dengan segenap jiwa dan
raga”. Sekali masuk Islam tidak tanggung-tanggung. Yang seperti Umar ini yang
kita perlukan sekarang ini. Begitu masuk Islam tidak tanggung, seluruhnya jiwa
dan raganya masuk Islam. Beliau yang pertama kali mengajukan ide kenapa harus
dakwah sembunyi ya rasul? Sementara kita berdiri diatas kebenaran,
memperjuangkan segala sesuatu yang haq, kalau pun kita mati, kita mati dalam
membela kebenaran, kenapa mesti harus sembunyi-sembunyi? Mulai sekarang mari
keluar ya rasul, saya akan dampingi tuan, nyawa saya taruhannya.
Cintanya Sayidina Umar kepada baginda nabi sangat luar biasa,
dimedan tempur beliau selalu di barisan pertama bahkan demikian cintanya,
sampai dimana ketika hari dimana baginda Nabi wafat, begitu disampaikan berita
wafat Nabi kepada Umar ini, Sayidina Umar bukan sedih melainkan cabut
pedang sambil melotot matanya berkata “Siapa yang bilang Muhammad mati saya
tebas batang lehernya”. Begitu cintanya beliau kepada baginda nabi, sampai-sampai
tidak menerima kalau nabi wafat.
Sampai bertemu dengan Sayidina Abu Bakar ra, di tempat orang
banyak, Sayyidina Abu Bakar yang bijaksana ini pidato:
“Ayyuhannas, mankaana ya’budu Muhammadan, fainna Muhammadan
qodmaata, waman kaana ya’budullaha fainnallaha hayyun layamuth.
“Wahai manusia, barang siapa yang menyembah Muhammad,
maka Muhammad sudah mati. Tetapi barang siapa yang menyembah Allah. Allah akan
hidup selamanya dan tidak akan pernah mati”.
Mendengar pidato Abu Bakar ini Sayydina Umar sadar, bahwa
sebenarnya yang tidak bisa mati itu cuma Allah. Bagaimanapun agungnya baginda
Nabi, besarnya budi pekerti baginda Nabi, dan tinggi akhlaknya Nabi, Cintanya
beliau kepada nabi toh nabi adalah manusia, dan manusia harus mati.
Kemudian dibacakan surah Ali Imran ayat 144
“Wama Muhammadun illa rasul qodkholat min qoblihirrusul, ‘afa
immata ‘awkutilan qolabtum ‘ala a’qoobikum”
“Muhammad tidak lain daripada manusia, telah datang
kepadanya rasul, apakah jika ia mati engkau kembali menjadi murtad atau mundur
kebelakang?”.
Mendengar ayat ini dibacakan, saydina Umar semakin berurai
air matanya, menangis dalam kesedihannya. Ini cintanya yang demikian tinggi
kepada baginda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam.
Setelah jadi khalifah sebagai satu i’tibar, khatib akan
mengungkapkan beberapa sifatnya yang menonjol untuk pelajaran pada kita semua.
Pertama sikapnya terhadap keluarga setelah beliau menjadi
khalifah. Kedudukan keluarga Umar bin Khattab bukan kedudukan keluarga istimewa,
itu ditanamkan betul kepada keluarganya. Jangan karena bapak mu khalifah, lalu
mentang-mentang anak khalifah kau merasa dapat fasilitas, merasa bisa berbuat
semau-mau mu, kau harus punya tanggung jawab dan beban moril, memberikan contoh
yang lebih baik kepada rakyat, ini yang ditekankan kepada keluarganya.
Kalau beliau mau mengeluarkan undang-undang, undang-undang
itu terlebih dahulu dibicarakan kepada keluarganya, beliau kumpulkan
anak-anaknya, sambil berkata: ini akan ada undang-undang begini, siapa diantara
kalian yang mau mentaati persilahkan, yang tidak pun persilahkan. Tapi saya
ingatkan, kalau ada dari keluarga Umar yang melanggar peratuaran yang saya
keluarkan ini, saya akan menghukumnya dua kali lipat karena dia keluarga saya.
Jadi jangan mentang-mentang anak seorang khalifah lantas kebal hukum.
Yang kedua yaitu sifat-sifat yang menonjol dari
kepemimpinannya. Apa saja sifat yang menonjol dari kepemimpinan Sayyidina Umar?
Pertama kesederhanaannya. Beliaulah satu-satunya khalifah, amirul mukminin,
setingkat presiden kalau sekarang, yang punya jubah cuma dua buah dan yang
satunyapun punya anaknya, tambelan lagi. Pernah saat shalat jum’at beliau
terlambat, beliau naik mimbar untuk khutbah sebelumnya minta maaf dulu
“Saudara-saudara mohon maaf saya terlambat nungguin baju kering”. Bayangkan
Seorang khalifah nungguin baju kering, sederhana dalam kehidupannya.
Mari kita ambil satu cerita lagi. Pada saat beliau jadi
khalifah, yang diangkat menjadi gubernur di Mesir adalah Amr bin Ash. Amr bin
Ash, hidupnya lebih mirip kaisar, istananya besar, pakaiannya bagus-bagus.
Pikiran yang paling menggangu Amr bin Ash saat itu adalah disebelah istananya
ini ada sebuah gubuk, reot, kepunyaan orang yahudii. Amr bin Ash berencana akan
membangun sebuat masjid besar di tempat gubuk tersebut dan otomatis harus
menggusur gubuk reot Yahudi tersebut. Lalu dipanggil lah si Yahudi itu untuk
diajak diskusi agar gubuk tersebut dibeli dan dibayar 2x lipat. Akan tetapi si
Yahudi tersebut bersikeras tidak mau pindah karena dia tidak punya tempat lain
selain disitu. Karena sama-sama bersikeras, akhirnya turun perintah dari
Gubernur Amr bin Ash untuk tetap menggusur gubuk tersebut.
Si Yahudi merasa dilakukan tidak adil, menangis berurai
airmatanya, kemudian dia melapor kepada khalifah, karna diatasnya gubernur
masih ada yang lebih tinggi. Dia berangkat dari Mesir ke Madina untuk bertemu
dengan Khalifah Sayyidina Umar bin Khattab.
Sepanjang jalan si yahudi ini berharap-harap cemas dengan
membanding bandingkan kalau gubernurnya saja istananya begitu mewah, bagaimana
lagi istanya khalifahnya? Kalau gubernunya saja galak main gusur apalagi
khalifahnya dan saya bukan orang Islam apa ditanggapi jika mengadu?”
Sesampai di Madina dia bertemu dengan seorang yang sedang
tidur-tiduran dibawah pohon Kurma, dia hampiri dan bertanya, bapak tau dimana
khalifah Umar bin Khattab? Dijawab orang tersebut, ya saya tau, Dimana
Istananya? Istananya di atas lumpur, pengawalnya yatim piatu, janda-janda
tua, orang miskin dan orang tidak mampu. Pakaian kebesarannya malu dan taqwa.
Si Yahudi tadi malah bingung dan lalu bertanya sekarang orangnya dimana pak? Ya
dihadapan tuan sekarang. Gemetar yahudi ini keringat bercucuran, dia tidak menyangka
bahwa didepannya adalah seorang khalifah yang sangat jauh berbeda dengan
gubernurnya di Mesir.
Sayiddina umar bertanya, kamu dari mana dan apa keperluanmu?
Yahudi itu cerita panjang lebar tentang kelakuan Gubernur Amr bin Ash yang akan
menggusur gubuk reotnya di Mesir sana. Setelah mendengar ceritanya panjang
lebar, Sayyidina Umar menyuruh yahudi tersebut mengambil sepotong tulang unta
dari tempat sampah didekat situ. Lalu diambil pedangnya kemudian di
gariskan tulang tersebut lurus dengan ujung pedangnya, dan disuruhnya yahudi
itu untuk memberikannya kepada Gubernur Amr bin Ash. Makin bingung si yahudi
ini dan dia menuruti perintah Khalifah Sayyidina Umar tersebut.
Sesampai di Mesir, yahudi inipun langsung menyampaikan pesan
sayyidina umar dengan memberikan sepotong tulang tadi kepada Gubernur Amr bin
Ash. Begitu dikasih tulang, Amr bin Ash melihat ada garis lurus dengan ujung
pedang, gemeter dan badannya keluar keringat dingin lalu dia langsung menyuruh
kepala proyek untuk membatalkan penggusuran gubuk yahudi tadi.
Amr bin Ash berkata pada yahudi itu, ini nasehat pahit buat
saya dari amirul mukminin Umar bin Khattab, seolah-olah beliau bilang ‘hai Amr
bin Ash, jangan mentang-mentang lagi berkuasa, pada suatu saat kamu akan jadi
tulang-tulang seperti ini. Maka mumpung kamu masih hidup dan berkuasa, berlaku
lurus dan adillah kamu seperti lurusnya garis diatas tulang ini. Lurus, adil,
jangan bengkok, sebab kalau kamu bengkok maka nanti aku yang akan luruskan
dengan pedang ku.
Singkat cerita, setelah melihat keadilan yang dicontohkan
Sayyidina Umar tersebut, akhirnya yahudi itu menghibahkan gubuknya tadi buat
kepentingan pembangunan masjid, dan diapun masuk Islam oleh karena keadilan
dari Umar bin Khattab.
Itu saja sebahagian contoh dari kepribadian seorang Khalifah
Sayyidina Umar bin Khattab yang dapat kita ambil i’tibar atau contoh dan
teladannya. Sebenarnya masih banyak lagi contoh-contoh kepribadian Sayyidina
Umar bin Khattab lainnya.
Selain kepribadian seorang Sayyidina Umar bin Khattab diatas
yang dapat kita ambil i’tibar atau contoh dan teladannya, beliau juga sangat
besar sekali jasa-jasanya bagi dunia Islam selepas dari kepergian Rasulullah.
Dimana dimasa Sayyidina Umar bin Khattab, satu-satunya kerajaan yang bisa
mengalahkan kerajaan Adikuasa di dunia saat itu yaitu Romawi dan Persia yaitu
Cuma Kerajaan Islam dimasa Khalifah Sayyidina Umar bin Khattab. Ibukota kedua
Romawi yaitu konstantinopel di Turki berhasil dia taklukan. Begitupun Kerajaan
Persia berhasil di taklukan saat pertempuran ditepi sungai Eufrat Irak.
Semoga kita bisa menerapkan apa yang sudah dicontohkan oleh
Sayyidina Umar bin Khattab tersebut didalam kehidupan kita sehari-hari. Aamieen
Ya Robbal 'Alamin.

Komentar
Posting Komentar